Wednesday, 24 October 2012

LATAR BELAKANG

Batik saat ini berusia 4 tahun setelah batik diakui oleh lembaga kebudayaan PBB (UNESCO, United Nation Education Social and Cultural Organization) sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2009. Dengan adanya pengakuan tersebut, Indonesia diuntungkan baik dari segi internal yang dilihat dari semakin meningkatnya kembali pengrajin dan pengusaha batik di Indonesia, dan dari segi eksternal, budaya bangsa Indonesia melalui batik diharapkan bisa terkenal dan bisa bersaing di dunia internasional.
        Pada era globalisasi dinamika perekonomian dan perdagangan Indonesia dihadapkan pada isu perdagangan bebas regional yang dikenal dengan AFTA (ASEAN Free Trade Area). Dalam perkembangannya agenda perdagangan bebas regional seperti CAFTA (China-ASEAN Free Trade Area) yang secara faktual berpengaruh pada aktor-aktor perekonomian Indonesia, termasuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) salah satu UMKM di Indonesia yang dipandang penting adalah industri kerajinan batik1. Oleh karena itu, batik Indonesia yang mengedepankan kualitas harus bisa bersaing dengan serbuan batik dari Negara China, yang mana batik China dijumlah secara masal dengan menggunakan printing, dan dengan harga terjangkau.
  Kata Batik berasal dari kata ‘amba’ dan ‘titik’. Secara singkat Batik dapat diartikan sebagai suatu cara atau teknik penutupan bagianbagian tertentu pada kain unuk memperoleh gambar atau hiasan yang berwarna setelah melalui proses pencelupan2. Perkembangan batik tidak terlepas dari pengrajin batik sebagai main core dalam batik tersebut. Pengrajin batik adalah aset dalam dunia batik yang mempunyai arti sangat penting dan bernilai tinggi bagi perkembangan batik Indonesia. Tanpa pengrajin batik, maka bisa dipastikan perkembangan batik Indonesia akan semakin tenggelam bahkan bisa jadi kebanggaan warisan budaya Indonesia ini akan hilang.  Seperti yang terjadi saat ini, banyak pengusaha batik yang gulung tikar disebabkan oleh minimnya Skill, dan minimnya regenerasi para pengrajin batik. 
Perkembangan pengrajin batik sekarang tidak hanya dituangkan di atas kain, melainkan sudah mulai berinovasi dan menjadi industry kreatif seperti batik dituangkan ke alat-alat rumah tangga dalam bentuk seprei, gorden, penutup kulkas dan dispense, dan lain-lain, inovasi ke dalam bentuk tas, dompet, sandal, mukena, sajadah dll, batik ke dalam bentuk Craft, dan Batik ractal4, yaitu pembuatan motif Batik dengan menggunakan software digital yang dapat menghasilkan berbagai macam motif Batik Indonesia.
Karena pentingnya dari kehadiran pengrajin batik dalam perkembangan batik  baik di Indonesia maupun di kancah internasional. Maka, seharusnya pengrajin batik mendapatkan perhatian dari banyak pihak, khususnya pemerintah. Baik dalam segi kesejahteraan pengrajin batik, juga perlindungan terhadap para pengrajin tersebut. Berkat kemampuan mereka dalam membuat batik, maka bisa mendatangkan keuntungan yang sangat besar bagi pengusaha batik dan bangsa Indonesia.
Selain itu, pengakuan dari UNESCO ini tidaklah bersifat selamanya. Jika batik sebagai warisan dunia yang berasal dari Indonesia ini tidak mampu dirawat dan dilestarikan oleh masyarakat Indonesia sendiri, maka status pengakuan ini akan berakhir3. Maka lembaga ini hadir untuk melestarikan batik Indonesia dengan memperhatikan, melindungi dan meregenerasi para pengrajin batik. Dengan cara memberi mereka pelatihan agar pengrajin batik Indonesia menjadi pengrajin batik unggul dan profesional modernis, mengenalkan batik sejak usia dini, mengajak pemuda untuk mencintai batik sebagai regenerasi penerus pengrajin batik Indonesia.
Namun pentingnya kehadiran pengrajin batik dalam kemajuan batik Indonesia, tidak sesuai dengan kemajuan batik Indonesia. Jumlah pengrajin batik di Indonesia semakin berkurang, Disebabkan oleh: 1) kesenjangan para pengrajin batik dengan pengusaha, 2) minimnya regenerasi pengrajin batik, 3) batik tulis berkurang karena kurangnya modal, 4) kurangnya dukungan dari pemerintah, 5) lebih mementingkan batik sebagai komoditas bukan dari nilai dari estetika batik tersebut. Untuk itulah Komunitas Pengrajin Batik Indonesia ini akan menjawab tantangan di atas, sehingga kemajuan batik bisa tercapai.

2 comments:

  1. Saya aghnes dari Universitas Bengkulu, kami dari Universitas akan mengadakan festival kain basurek (batik khas dari daerah Bengkulu) apakah bapak / ibu bisa memfasilitasi kegiatan kami ini ? Kami sangat mengharapkan bantuan serta kontribusi dari bapak ibu yang targabung dalam asosiasi batik Indonesia demi melestarikan kekayaan Budaya Indonesia terimakasih

    ReplyDelete
  2. Kehadiran Pengrajin Batik pada 4)kurangnya dukungan dari pemerintah, maka perlu "proteksi nilai batik pada estetiknya" melawan arus teknologi batik printing yang mementingkan batik sebagai komoditas. Singkatnya perlu "larangan bagi batik printing yang mengelabui batik asli".

    ReplyDelete